BERKARYA SENI RUPA
Berkarya Seni Rupa - Semoga Artikel ini dapat membantu menambah pengetahuan dan petunjuk maupun pedoman pada pembaca dalam hal pendidikan. Artikel ini memang masih banyak kekurangan oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sehingga dapat menjadi acuan dalam bekal pengalaman untuk lebih baik dimasa yang akan datang.
1. Penciptaan Seni Rupa Murni
Penciptaan seni rupa murni merupakan kegiatan berkarya seni lukis, seni patung, seni grafis, seni erat, dan lain-lain, untuk mengungkapkan oikiran, perasaan, dan pengalaman kehidupan menjadi perwujudan visual dilandasi kepekaan artistic. Kepekaan artistic mengandung arti, memerlukan kemampuan mengelola atau mengorganisir elemen-elemen visual untuk mewujudkan gagasan menjadi karya nyata.
Seni rupa murni merupakan cabang seni rupa yang dibuat tanpa mempertimbangkan fungsinya melainkan untuk dinikmati unsur keindahannya saja. Seni rupa murni cenderung lebih bebas dan biasanha memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Untuk fungsinya sendiri, seni rupa murni hanya digunakan sebagai hiasan atau pajangan saja, contohnya kaligrafi, lukisan, patung dan lain sebagainya.
Lukisan
Lukisan adalah sebuah karya seni rupa dua dimensi yang dibuat dengan media lukis, seperti kanvas, kertas dan lain sebagainya, yang dibuat dengan menggunakan beberapa macam alat lukis seperti pensil, cat air, cat akrilik, kuas dan lain sebagainya. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, lukisan bukan hanya dalam bentuk dua dimensi saja, tetapi ada juga yang tiga dimensi.
Patung
Patung merupakan hasil karya seni rupa murni yang berbentuk tiga dimensi dan dibuat dengan menggunakan teknik tertentu yang biasanya tergantungan dengan media dan juga alat yang digunakan. Patung itu sendiri biasanya terbuat dari bahan-bahan seperti kayu, logam, batu alam dan lain sebagainya. Hasil karya seni rupa yang satu ini bisa kita temui di mana saja dan di Indonesia sendiri juga ada banyak patung hasil peninggalan dari zaman kerajaan dulu, yang mayoritas menganut agama Hindu-Budha yang menyembah patung yang mereka jadikan sebagai dewa.
Relief
Relief dalam dunia seni rupa bisa disebut sebagai gambar lukisan dalam bentuk tiga dimensi (trimatra) yang dibuat diatas bidang dua dimensi (dwimatra). Relief banyak kta temui di peninggalan-peninggalan sejarah seperti halnya candi dan lain sebagainya.
Mozaik
Mozaik
atau yang bisa disebut dengan seni merangkai pecahan maupun potongan kecil menjadi sebuah bentuk yang sangat indah. Dalam membuat mozaik biasanya menggunakan pecahan batu, keramik, kaca dan lain sebagainya. Seni mozaik sendiri sudah adda sejak zaman Romawi kuno bisa terlihat dari bangunan-bangunan peninggalan zaman dulu.
Ukiran
Ukiran
atau yang disebut juga dangan seni memahat batu ataupun kayu menjadi sebuah bentuk karya seni yang indah. Seni ukir biasanya berbentuk hewan dan tumbuhan. Kalau pada zaman dahulu, seni ukir lebih cenderung masuk ke dalam seni terapan.
A. Aspek Konseptual
1) Penemuan Sumber Inspirasi
Titik tolak penciptaan karya seni rupa murni adalah penemuan gagasan. Kita harus memliki gagasan yang jelas dalam mengekspresikan pengalaman artistik. Sumbernya ;
(1) Berasal dari realistas internal, penambahan kehidupan spiritual (psikologi) kita sendiri. Misalnya harapan, cita –cita, emosi.
(2) Berasal dari realistas eksternal, yaitu hubungan pribadi kita dengan Tuhan ( tema religius), hubungan pribadi kita dengan sesama (tema sosial;keadilan, kemiskinan, nasionalisme), hubungan pribadi kita dengan alam(tema;lingkungan, keindahan alam)dan lain sebagainnya.
2) Penetapan Interes Seni
Dalam aktivitas pencipataan kita harus dapat menentukan interes seni kita sendiri, sehingga dapat berkreasi secara optimal. Pada dasarnya terdapat tiga interes seni;
(1) Interes pragmatis, menempatkan seni sebagai instrumen pencapaian tujuan tertentu. Misalnya tujuan nasioanal, moral, politik, dakwah, dan lain-lain
(2) Interes reflektif, menempatkan seni sebagai pencerminan realitas aktual (fakta dan kenyataan kehidupan) dan realistas khayali(realistas yang kita bayangkan sebagai sesuatu yang ideal)
(3) Interes estetis, berupaya melepaskan seni dari nilai-nilai pragmatis dan instrumentalis.
3) Penetapan Interes Bentuk
Untuk mengekspresikan penghayatan nilai-nilai internal atau eksternal dengan tuntas, kita perku mempertimbangkan kecenderungan umum minat dan selera seni kita sendiri. Misalnya kita dapat mencermati karya – karya yang telah kita buat selama studi. Kecenderuang yang dapat kita pilih adalah :
(1) Bentuk figuratif, yakni karya seni rupa yang menggambarkan figur yang kita kenal sebagai objek-objek alami, manusia.
(2) Bentuk semi figuratif, yakni karya seni rupa yang setengan figuratuf, masih menggambarkan figur atau kenyataan alamiah, tetapi bentuk dan warnanya telah mengalami distrosi, deformasi, stilasi oleh perupa.
(3) Bentuk nonfiguratif, adalah karya-karya seni rupa yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk bentuk alamiah, jadi tanpa figur atau tanpa objek.
4) Penetapan prinsip estetik
Pada tahap ini,kita perlu menetapkan prinsip estetika yang paling sesuai untuk mengungkapkan pengalaman kita. Alternantif prinsip estetika yang dapat kita pilih ialah ;
(1) Pramodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas merepresentasikan bentuk – bentuk alam, atau aktivitas pelestarian kaidah estetik tradisional.
(2) Modern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas kreatif, yang mengeutamakan aspek penemuan , orisinalitas, dan gaya pribadi
(3) Posmodern, prinsip estetika yang memandang seni sebagai aktivitas permainan tanda yang hiperriil dan ironik, sifatnya memijam dan memadu gaya seni lama dan menyajikannya sebagai pencerminan budaya konsumerisme masa kini.
B. Aspek Visual
(1) Struktur visual. Untuk mewujudkan aspek konseptual menjadi karya visual, perlu ditegaskan lebih spesifik dalam subject matter, masalah pokok atau tema seni yang akan diciptakan. Misalnya tema sosial ; kemiskinan , dengan pilihan objek “pengemis”. Tema perjuangan ; dengan pilihan objek “pangeran diponogoro”, tema religius: lukisan kaligrafi dengan objek “ayat tertentu”. Dan lain sebagainya.
(2) Komposisi. Hasil seleksi unsur – unsur rupa dikelola, ditata, dengan prinsip-prinsip tertentu, baik terhadap setiap unsur secara tersendiri maupun dalam hubungannya dalam bentuk atau warna.
(3) Gaya pribadi. Dalam penciptaan karya seni, karakteristik atau ciri khas seorang perupa merupakan faktor bawaa, yang menandai sifat unik karya yang diciptakannya.
2. Aspek Operasional
Langkah-langkah kerja dalam keseluruhan proses perwujudan karya dimulai dari penetapan bahan, peralatan utama dan pendukung, serta teknik dalam memperlakukan bahan dengan peralatannya. Seluruh proses dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu : Tahap persiapan, Tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Jenis karya seni rupa tertentu memerlukan pembersihan menyeluruh, lapisan pengawet (Coating) atau lembaran kaca dan bingkai.
Pengertian Dasar Seni Lukis
1. Ruang lingkup seni lukis
Sesungguhnya seni lukis itu memiliki keberagaman dan memiliki banyak aliran, yang satu sama lain disamping mempunyai persamaan, juga tidak jarang saling bertentangan secara diametral.
Secara teknis lukisan adalah pembubuhan pigmen atau warna dengan bahan pelarut diatas permukaan bidang dasar, seperti pada kanvas, panel untuk menghasilkan sensasi atau ilusi ruang, gerakan, tekstur, untuk mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif baik yang sifatnya intelektual, emosi, simbolik, relegius dll. Contoh lukisan yaitu lukisan teknologis (yang dibuat menggunakan media elektronik) dan lukisan manual dan menampil kan gaya pelukisan ekspresionisme.
1. gambar 1.1
2. Unsur Visual
a. Garis
Pada karya seni lukis garis dapat mengekspresikan suasana emosi tertentu seperti perasaan bahagia, sedih, marah, teratur, kacau dan lainnya. Unsur garis juga dapat membangun asosiasi kita kepada kesan tertentu, misalnya garis horizontal kesannya tenang, diam, tidak bergerak dan lebar. Sementara garis vertical kesannya agung, stabil, tinggi, sedangkan garis diagonal kesannya jatuh, dan bergerak. Garis dapat diciptakan melalui : Kontur, batas pemisah antara dua warna, lekukan pada bidang melingkar, dan batas antara dua tekstur.
b. Warna
Peran warna dalam kegiatan seni lukis sangat esensial, baik pada masa pra modern, masa modern, maupun masa postmodern. Pada umumnya para pelukis memanfaatkan warna untuk menyatakan gerak, jarak, tegangan, deskripsi rupa alam, naturalis, ruang, bentuk, ekspresi atau makna simbolik.
c. Sifat warna
Dalam teori warna dikenal ada tiga sifat optis, optical property yaitu : hue, value dan saturation. Hue adalah tingkat kepekatan warna (merah, hijau, biru). Value adalah fenomena kecemerlangan dan kesuraman warna. Sedangkan saturation adalah intensitas nada warna untuk menunjukan warna-warna menyala dan warna-warna yang suram. Semakin murni penggunaan warna semakin tinggi intensitasnya dan sebaliknya semakin tidak murni penggunaan warna semakin rendah intensitasnya.
d. Notasi warna
Notasi warna adalah system klasifikasi atau identifikasi warna menurut sifat-sifat optisnya. Warna primer (merah, biru, kuning) dan warna sekunder (hijau, ungu, oranye). Warna komplementer letaknya bertolak belakang pada lingkaran warna. Misalnya merah dengan hijau atau biru dengan oranye.
e. Warna-warna antara
Warna- warna antara (intermediate color) seperti merah oranye, merah ungu, biru ungu, hijau biru, dan oranye kuning. Sebenarnya dalam teori warna jumlah warna ada 80 warna.
f. Warna hangat dan warna sejuk
Warna yang memberi efek kehangatan adalah merah, oranye dan kuning. Sedangkan warna hijau dan biru memberikan efek kesejukan.
g. Warna kromatik dan akromatik
Warna kromatik terdiri dari warna hitam, putih dan abu-abu. Selebihnya termasuk warna akromatik seperti merah, biru, kuning, hijau dll.
h. Warna objek dan warna pigmen
Warna objek adalah warna yang terkena sinar warna spectrum, yang mengenai mekanisme mata pengamat adalah warna spectrum dengan panjang gelombang tertentu yang dipantulkan oleh objek pengamatan.
3. Ruang
Ruang (space) adalah keluasan dari suatu bidangatau permukaan. Dalam design elementer disebutkan ruang bisa dikatakan bentuk dua atau tiga dimensional, bidang atau keluasan.
4. Tekstur
Jika seseorang mengamati permukaan lukisan dan mendapat kesan kasar, kemudian meraba lukisan tersebut benar-benar juga kasar. Atau sebaliknya maka jenis tekstur seperti itu disebut tekstur nyata, actual texture, karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan memiliki kualitas yang sama.
5. Bentuk
Dalam teori seni pemakaian istilah bentuk merupakan terjemahan dari shape, sedangkan istilah wujud merupakan terjemahan dari form. Bentuk dalam pengertian seni lukis memiliki banyak segi, ada bentuk figurative, bentuk semi figurative dan bentuk non figurative.
Bentuk figurative bisa menghasilkan bentuk imitative yakni berupaya meniru segala bentuk perwujudan benda-benda alam atau bentuk ciptaan manusia (pabrik, kota, café). Bentuk semi figurative antara lain bentuk distorsif, yakni bentuk yang telah dirubah dari bentuk asal menjadi bentuk yang lebih estetis sesuai dengan cita rasa penciptanya.
Contoh lukisan bentuk Figuratif (benda alam)
Penciptaan Desain
Sebagai aktivitas reka letak atau perancangan, desain dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan benda fungsional yang estetis. Proses kreasi desain menvakup : Studi pendahuluan, Profil dasar dan segmen konsumen, Alternatif desain, uji coba, dan standar prosedur produksi. Penciptaan alternative desain pada umumnya mempertimbangkan factor kebutuhan fungsional, estetis, lingkungan dan kenyamanan dan keamanan masyarakat pengguna desain, baik dalam arti fisik maupun mental.
Penciptaan karya desain biasanya dilakukan karena adanya pesanan dari pihak tertentu, tapi bisa juga berupa ciptaan para disainer yang ditawarkan kepada masyarakat, biasanya ciptaan tersebut disesuaikan dengan segmen pasar. Pada tahap studi pendahuluan pedesain harus mengkaji trend di masyarakat dari produk sejenis, aspek bahan baku, teknik dan proses kreasi, fungsi, susunan rupa, gaya, harga, dari jenis desain yang akan diciptakan.
Penciptaan alternatif desain umumnya selalu mempertimbangkan faktor kebutuhan fungsional, faktor estetis, faktor lingkungan, serta faktor kenyamanan dan keamanan masyarakat pengguna, baik dalam arti fisik maupun mental. Sedangkan uji coba merupakan upaya untuk mendeteksi sejauh mana alternatif desain awal telah memenuhi kriteria standar desain. Kesimpulan dari hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan pada gilirannya akan dipergunakan untuk memperbaiki desain awal, sehingga diperoleh karya desain yang representatif dan memuaskan.
Prinsip Desain
1. Keselarasan (harmony)
Dalam suatu desain adalah keteraturan tatanan diantara bagian desain, yaitu susunan yang seimbang, menjadi satu kesatuan yang padu dan utuh, masing-masing saling mengisi sehingga mencapai kualitas yang disebut harmoni.
2. Kesebandingan (proportion)
Merupakan perbandingan antar satu bagian dengan bagian yang lain, atau antara bagian dengan unsur keseluruhan secara visual memberikan efek menyenangkan. Artinya, tidak timpang atau janggal baik dari segi bentuk maupun warna
3. Irama (rythem)
Dalam pengertian visual dapat dirasakan karena ada factor pengulangan diatas bidang atau dalam ruang yang menyebabkan timbulnya efek optic seperti gerakan, getaran atau perpindahan dari satu unsur ke unsur yang lain.
4. Keseimbangan (balance)
Dalam penciptaan desain adalah upaya penciptaan karya yang memiliki daya Tarik visual. Keseimbangan dapat memberikan efek normal (simetri), informal (asimetri) atau efek static (pyramid) dan dinamik (bola) efek memusat, memencar dan sebagainya.
5. Penekanan (emphasis)
Dalam merealisasi gagasan desain, adalah penentuan factor utama yang ditonjolkan karena kepentingannya, ada factor pendukung gagasan yang penyajiannya tidak perlu mengundang perhatian, meski kehadirannya dalam keseluruhan desain tetap penting. Prinsip penekanan dapat dilakukan dengan distorsi ukuran, bentuk, irama, arah, warna kontras dan lain-lain.









0 Komentar untuk "Semua Tentang Seni Rupa"